BAB I
KONSEP KURIKULUM
A. Kedudukan
Kurikulum dalam Pendidikan
Kurikulum
merupakan syarat mutlak bagi pendidikan di sekolah, kurikulum merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari pendidikan atau pengajaran. Dapat kita bayangkan,
bagaimana bentuk pelaksanaan suatu pendidikan atau pengajaran di sekolah yang
tidak memiliki kurikulum. Setiap praktik pendidikan diarahkan pada pencapaian
tujuan – tujuan tertentu, apakah berkenaan dengan penguasaan pengetahuan,
pengembangan pribadi, kemampuan sosial, ataupun kemampuan bekerja. Untuk
menyampaikan bahan pelajaran, ataupun mengembangkan kemampuan – kemampuan
tersebut diperlukan metode penyampaian serta alat – alat bantu tertentu. Untuk
menilai hasil dan proses pendidikan, juga diperlukan cara – cara dan alat –
alat penilaian tertentu pula. Keempat hal tersebut, yaitu tujuan, bahan ajar,
metode alat, dan penilaian merupakan komponen – komponen utama kurikulum.
Dengan berpedoman pada kurikulum, interaksi pendidikan antara guru dan siswa
berlangsung, interaksi ini tidak berlangsung dalam ruang hampa, tetapi selalu
terjadi dalam lingkungan tertentu, yang mencakup antara lain lingkungan fisik,
alam, sosial budaya, ekonomi, politik, dan religi.
Kurikulum
mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan, kurikulum
mengarahkan segala bentuk aktivitaspendidikan demi tercapainya tujuan – tujuan
pendidikan. Menurut Mauritz Jhonson ( 1967, hlm. 130 ) kurikulum “ prescribes (
or at least anticipates ) the result of instruction “. Kurikulum juga merupakan
suatu rencana pendidikan , memberikan pedoman
dan pegangan tentang jenis, lingkup, dan urutan isi, serta proses
pendidikan.
B. Konsep
Kurikulum
Konsep
kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan,
juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya.
Menurut pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan – kumpulan mata pelajaran
yang harus di sampaikan guru atau dipelajari oleh siswa. Anggapan ini telah ada
sejak zaman Yunani Kuno, dalam lingkungan atau hubungan tertentu pandangan ini
masih dipakai sampai sekarang, yaitu kurikulum sebagai “ a racecourse of
subject matters to be mastered “ ( Robert S. Zais, 1976, hlm. 7 ).
Kurikulum
juga sering dibedakan antara kurikulum sebagai rencana dengan kurikulum yang
fungsional. Kurikulum bukan hanya merupakan rencana tertulis bagi pengajaran,
melainkan sesuatu yang fungsional yang beroperasi dalam kelas, yang member
pedoman dan mengatur lingkungan dan kegiatan yang berlangsung di dalam kelas.
Rencana tertulis merupakan dokumen kurikulum, sedangkan kurikulum yang
dioperasikan di kelas merupakan kurikulum fungsional.
Bidang
cakupan teori atau bidang studi kurikulum meliputi : konsep kurikulum,
penentuan kurikulum, pengembangan kurikulum, desain kurikulum, implementasi dan
evaluasi kurikulum. Sebagai suatu system, kurikulum merupakan bagian atau subsistem
dari keseluruhan kerangka organisasi sekolah atau system sekolah. Fungsi utama
system kurikulum adalah dalam
pengembangan, penerapan, evaluasi, dan penyempurnaannya, baik sebagai dokumen
tertulis maupun aplikasinya dan menjaga agar kurikulum tetap dinamis.
C. Kurikulum
dan Teori – Teori Pendidikan
Suatu
kurikulum disusun dengan mengacu pada suatu atau beberapa teori kurikulum, dan
suatu teori kurikulum diturunkan atau dijabarkan dari teori pendidikan
tertentu, kurikulum dapat dipandang sebagai rencana konkret penerapan dari
suatu teori pendidikan. Ada empat teori pendidikan yang banyak dibicarakan para
ahli pendidikan dan dipandang mendasari pelaksanaan pendidikan, yaitu
pendidikan klasik, pendidikan pribadi, pendidikan interaksional, dan teknologi
pendidikan.
1. Pendidikan
Klasik
Pendidikan
klasik atau classical education dapat
dipandang sebagai konsep pendidikan tertua. Menurut konsep pendidikan klasik,
guru atau pendidik adalah ahli dalam bidang ilmu dan juga contoh atau model
nyata dari pribadi yang ideal. Siswa merupakan penerima pengajaran yang baik,
tetapi sebagai penerima informasi sesungguhnya mereka pasif.
Ada
dua model konsep pendidikan klasik, perenialisme dan esensialisme, walaupun
didasari dengan konsep – konsep yang sama, keduanya memiliki pandangan yang
berbeda. Parenialisme maupun esensialisme mempunyai pandangan yang sama tentang
masyarakat, bahwa masyarakat bersifat
statis. Pendidikan berfungsi memeihara dan mewariskan pengetahuan, konsep –
konsep dan nilai – nilai yang telah ada.
Parenialisme
berkembang di Eropa dalam masyarakat aristokratis agraris, mereka lebih
berorientasi ke masa lampau dan kurang mementingkan tuntutan – tuntutan
masyarakat yang berkembang saat sekarang. Pendidikan lebih menekankan pada humanitas, pembentukan pribadi, dan sifat – sifat mental.
Esensialisme
berkembang di Amerika Serikat dalam masyarakat industri, pendidikan ini lebih
mengutamakan sains daripada humanitas. Mereka lebih pragmatis, pendidikan
diarahkan dalam mempersiapkan generasi muda untuk terjun ke dunia kerja. Konsep
ini lebih berorientasi pada masa sekarang dan yang akan datang.
Kurikulum pendidikan klasik lebih menekankan
isi pendidikan, yang diambil dari disiplin – disiplin ilmu, disusun oleh para
ahli tanpa mengikutsertakan guru – guru, apalagi siswa. Isi disusun secara
logis, sistematis, dan berstruktur, dengan berpusatkan pada segi intelektual,
sedikit sekali memperhatikan segi – segi social atau psikologi peserta didik.
BAB II
TEORI KURIKULUM
A. Apakah
Teori Itu ?
Suatu
teori lahir dari suatu proses, yang berbeda dengan yang lainnya. Suatu teori
hanya menjelaskan hal yang terbatas, teori lain menjelaskan hal yang lebih
luas. Teori menjelaskan suatu kejadian, suatu kejadian yang di jelaskan oleh
suatu teori menunjukkan suatu set yang universal, set universal ini terbentuk
oleh tiga bagian. Bagian yang pertama, kejadian yang dia ketahui, yang
dinyatakan sebagai fakta, hokum atau prinsip. Bagian yang kedua yang dinyatakan
sebagai asumsi, proposisi, dan postulat. Bagian ketiga adalah begian dari set
universal atau bagian dari keseluruhan yang belum diketahui.
Tugas
seorang teoritis adalah merumuskan istilah – istilah dan pernyataan yang akan
menjelaskan isi bagian – bagian dan hubungan diantara bagian – bagian tersebut.
Suatu teori terdiri atas serangkaian pernyataan, di dalam pernyataan tersebut
ada istilah –istilah.
1. Apakah
Fungsi Teori ?
Minimal ada tiga
fungsi teori yang sudah disepakati para ilmuwan yaitu : mendeskripsikan, menjelaskan dan memprediksi. Dalam usaha
mendeskripsikan, menjelaskan, dan membuat prediksi, para ahli terus mencari dan
menemukan hokum – hokum baru dan hubungan – hubungan baru diantara hukum –
hukum tersebut. Melalui proses demikian mungkin terjadi didalam suatu “ set
kejadian “, semua hukum dan interelasinya dapat dinyatakan dan teori itu telah
berkembang menjadi hokum yang lebih tinggi.
B. Teori
Pendidikan
Teori
– teori pendidikan yang ada lebih menggambarkan pandangan filosofis, ada dua
kecenderungan perkembangan ilmu pendidikan. Pertama, perkembangan yang bersifat
teoritis yang merupakan pengkajian masalah – masalah pendidikan dari sudut
pandangan ilmu lain, seperti filsafat, psikologi, dan lain – lain. Kedua,
perkembangan ilmu pendidikan dan praktik pendidikan, keduanya dapat saling
membantu, melengkapi, dan memperkaya. Walaupun terdapat perbedaan , keduanya
tidak dapat dipisahkan, teori menjadi pedoman bagi praktik dan praktik memberi
umpan balik bagi pengembangan teori.
C. Teori
Kurikulum
Teori
kurikulum yaitu sebagai suatu perangkat
pernyataan yang memberikan makna terhadap kurikulum sekolah, makna tersebut
terjadi karena adanya penegasan hubungan antara unsur – unsur kurikulum, Karena
adanya petunjuk perkembangan, penggunaan dan evaluasi kurikulum.
1. Konsep
Kurikulum
Konsep
pertama, kurikulum sebagai suatu substansi, suatu kurikulum, dipandang orang
sebagai suatu rencana kegiatan belajar bagi murid – murid di sekolah, atau
sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin di capai.
Konsep
kedua, adalah kurikulum sebagai suatu system, yaitu system kurikulum, sistem
kurikulum merupakan bagian dari sistem persekolahan, system pendidikan bahkan
system masyarakat.
Konsep
ketiga, kurikulum sebagai suatu bidang studi yaitu bidang studi kurikulum. Ini
merupakan bidang kajian para ahli kurikulum dan ahli pendidikan dan pengajaran.
2. Perkembangan
Teori Kurikulum
Perkembangan
kurikulum telah di mulai pada tahun1890 dengan tulisan Charles dan McMurry,
tetapi secara definitif berawal pada hasil karya Franklin Babbit tahun 1918.
Menurut Babbit inti dari teori kurikulum itu sederhana, yaitu kehidupan
manusia. Kehidupan manusia meskipun berbeda – beda pada dasarnya sama,
terbentuk oleh sejumlah kecakapan pekerjaan. Werret W. Chalters ( 1923 ) setuju
dengan konsep Bobbit tentang analisis kecakapan atau pekerjaan sebagai dasar
penyusunan kurikulum. Chalters lebih menekankan pada pendidikan vokasional.
Mulai
1920, karena pengaruh pendidikan progresif, berkembang gerakan pendidikan yang
berpusat pada anak ( child centered ). Pada tahun 1947 di Universitas Chicago
berlangsung diskusi besar pertama tentang teori kurikulum. James B. MacDonald (
1964 ) melihat teori kurikulum dari model sistem. Broudy, Smith dan Burnett (
1964 ) menjelaskan masalah persekolahan dalam suatu skema yang menggambarkan
komponen – komponen dari keseluruhan proses mempengaruhi anak.
Thomas
L. Faix ( 1966 ) menggunakan analisis struktural – fungsional yang berasal dari
biologi, sosiologi, dan antropologi untuk menjelaskan konsep kurikulum.
Alizabeth S. Maccia ( 1965 ) dari hasil analisisnya menyimpulkan adanya empat
teori kurikulum, yaitu : teori kurikulum ( curriculum
theory ), teori kurikulum – formal ( formal
– curriculum theory ), teori kurikulum valuasional ( valuational curriculum theory ), dan teori kurikulum praksiologi ( praxiological curriculum theory ). Mauritz
Johnson ( 1967 ) membedakan antara kurikulum dengan proses pengembangan
kurikulum. Kurikulum merupakan hasil dari system pengembangan kurikulum, tetapi
system pengembangan bukan kurikulum.
1. Sumber
pengembangan kurikulum
Dari
kajian sejarah kurikulum, kita mengetahui beberapa hal yang menjadi sumber atau
landasan inti penyusunan kurikulum. Pengembangan kurikulum pertama bertolak
dari kehidupan dan pekerjaan orang dewasa. Dalam pengembangan selanjutnya,
sumber ini menjadi luas meliputi semua unsur kebudayaan, sumber lain penyusun
kurikulum adalah anak, beberapa pengembangan kurikulum mendasarkan penentuan
kurikulum kepada pengalaman – pengalaman penyusunan kurikulum yang lalu.
Terakhir
yang menjadi sumber penentuan kurikulum adalah kekuasaan sosial – politik. Di
Indonesia, pemegang kekuasaan social – politik dalam penentuan kurikulum adalah
menteri pendidikan dan kebudayaan yang dalam pelaksanaannya dilimpahkan kepada
Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah serta Dirjen Pendidikan Tinggi bekerja sama
dengan Balitbangdikbud.
2. Desain
dan Rekayasa Kurikulum
Desain
kurikulum merupakan suatu pengorganisasian tujuan, isi, serta proses belajar
yang akan diikuti siswa pada berbagai tahap perkembangan pendidikan. Rekayasa
kurikulum berkenaan dengan bagaimana proses memfungsikan kurikulum di sekolah,
upaya – upaya yang perlu dilakukan para pengelola kurikulum agar kurikulum
dapat berfungsi sebaik – baiknya.
BAB 3
LANDASAN
FILOSOFIS DAN PSIKOLOGIS PENGEMBANGAN KURIKULUM
‘
A.
Landasan Filosofis
Filsafat yaitu upaya untuk menggambarkan dan menyatakan suatu
pandangan yang sistematis dan komperhensif tentang alam semesta dan kedudukan
manusia didalamnya. Ada tiga cabang besar filsafat, yaitu metafisik yang
membahas segala yang ada dalam alam ini, epistemologi yang membahas kebenaran
dan aksiologi yang membahas nilai. Aliran – aliran filsafat yang kita kenal
bertolak dari pandangan yang berbeda dalam ketiga hal itu.
Menurut Donald Butler, filsafat memberikan arah dan metodologi
terhadap praktik pendidikan, sedangkan praktik pendidikan memberikan bahan-
bahan bagi pertimbangan – pertimbangan filosofis. Jhon Dewey umpanya mempunyai
pandangan yang hampir sama dengan Butler,
bagi Dewey, filsafat dan filsafat pendidikan adalah sama, sebagaimana
juga pendidikan menurut Dewey sama dengan kehidupan. Seperti halnya dalam
filsafat umumnya dalam filsafat pendidikan pun dikenal banyak pandangan atau
aliran setiap pandangan mempunyai landasan metafisik, epistemologi, dan
aksiologi tentang masalah pendidikan yang berbeda.
1.
Dasar – dasar Filsafat Dewey
Ciri utama filsafat Dewey adalah konsepsinya tentang dunia yang
selalu berubah, mengalir, atau on going-ness. Ciri lain filsafat Dewey adalah
anti dualistik, pandangannya tentang dunia adalah monistik dan tidak lebih dari
sebuah hipotesis. Filsafat Dewey lebih berkenaan dengan epistemologi dan
tekanannya kepada proses berpikir.
2.
Teori pendidikan Dewey
Pendidikan berarti perkembangan, perkembangan sejak lahir hingga
menjelang kematian, jadi pendidikan itu juga berarti sebagai kehidupan. Bagi
Dewey, education is growth, development, life. Pendidikan merupakan
reorganisasi dan rekonstruksi yang konstan dari pengalaman. Pengalaman itu
bersifat aktif dan pasif, pengalaman yang bersifat aktif berarti berusaha,
mencoba, dan mengubah, sedangkan pengalaman pasif berarti menerima dan
mengikuti saja. Belajar dari pengalaman adalah bagaimana menghubungkan
pengalaman kita dengan pengalaman masa lalu dan yang akan datang.
B.
Landasan Psikologis
Peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses
perkembangan, tugas utama yang sesungguhnya dari para pendidik adalah membantu
perkembangan peserta didik secara optimal. Jadi, minimal ada dua bidang
psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum, yaitu psikologi perkembangan
dan psikologi belajar.
1.
Psikologi Perkembangan
Psikologi
perkembangan membahas perkembangan individu sejak masa konsepsi, yaitu masa
pertemuan spermatozoid dengan sel telur sampai dengan dewasa.
a.
Metode dalam psikologi perkembangan
Metode sosiologik digunakan oleh Robert Havighurst. Ia mempelajari
perkembangan anak dilihat dari tuntutan akan tugas – tugas yang harus dihadapi
dan dilakukan dalam masyarakat. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh
aspek kepribadiannya, tetapi tempo dan irama perkembangan masing – masing anak
pada setiap aspek tidak selalu sama.
b.
Teori perkembangan
Dikenal ada tiga teori pendekatan tentang perkembangan individu,
yaitu pendekatan pentahapan ( stage approach ), pendekatan diferensial
(differential approach ), dan pendekatan ipsatif ( ipsative approach ). Ada
sepuluh kelompok tugas perkembangan yang harus dikuasai anak pada setiap fase
yang membentuk pola, yaitu pola:
·
Kebergantungan
– keberdirisendirian
·
Memberi –
menerima kasih sayang
·
Hubungan sosial
·
Perkembangan
kata hati
·
Peran bio –
sosio dan psikologis
·
Penyesuaian
dengan perubahan badan
·
Penguasaan
perubahan badan dan motorik
·
Belajar
memahami dan mengontrol lingkungan fisik
·
Pengembangan
kemampuan konseptual dan sistem simbol
·
Kemampuan
melihat hubungan dengana alam semesta.
2.
Psikologi Belajar
Psikologi belajar merupakan suatu studi tentang bagaimana individu
belajar,belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi
melalui pengalaman. Segala perubahan tingkah laku baik yang berbentuk kognitif,
afektif, maupun psikomotor dan terjadi karena proses pengalaman dapat
dikategorikan sebagai perilaku belajar.
BAB 4
LANDASAN SOSIAL
BUDAYA, PERKEMBANGAN ILMU DAN TEKNOLOGI DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM
A.
Pendidikan dan Masyarakat
Ada tiga sifat penting pendidikan. Pertama, pendidikan mengandung
nilai dan memberikan pertimbangan nilai. Kedua, pendidikan diarahkan pada
kehidupan dalam masyarakat. Ketiga, pelaksanaan pendidikan dipengaruhi dan di
dukung oleh lingkungan masyarakat tempat pendidikan itu berlangsung. Tujuan
umum pendidikan seiring dirumuskan untuk menyiapkan generasi muda menjadi orang
dewasa anggota masyarakat yang mandiri dan produktif.
Konsep pendidikan bersifat universal, tetapi pelaksanaan pendidikan
bersifat lokal, disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat setemapat.
Setiap lingkungan masyarakat masing – masing memiliki sistem sosial – budaya
yang berbeda. Salah satu aspek yang cukup dalam sistem sosial – budaya adalah
tatanan nilai – nilai. Pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan. Dalam arti
yang lebih mendasar, pendidikan merupakan suatu proses kebudayaan. Proses
pemdudayaan tidak dapat berlangsung secara sendirian, melainkan harus dalam
interaksi dengan orang lain, interaksi dengan lingkungan. Kehidupan masyarakat
tidak terlepas dari tempat masyarakat ituberada, kehidupan masyarakat juga
dipengaruhi oleh tingkat kemajuan yang telah dicapainya.
B.
PerkembanganMasyarakat
Salah satu ciri dari masyarakat adalah selalu berkembang, karena
adanya pengaruh dari perkembangan teknologi, terutama teknologi industri,
transportasi, komunikasi, telekomunikasi dan elektronika, masyarakat kita
dewasa ini berkembang sangat cepat menuju masyarakat terbuka, masyarakat informasi
dan global. Perubahan – perubahan masyarakat ini akan mempengaruhi perkembangan
setiap individu warga masyarakat, mempengaruhi pengetahuan, kecakapan, sikap,
aspirasi, minat, semangat, kebiasaan bahkan pola – pola hidup mereka.
1.
Perubahan Pola Pekerjaan
Karena pengaruh perkembangan teknologi maka terjadi perubahan yang
cukup drastis dalam pola pekerjaan. Masyarakat secara berangsur – angsur
terutama diperkotaan sering terjadi loncatan, berubah dari kehidupan yang
berpola agraris ke pola kehidupan industri. Pola kehidupan agraris memiliki
kesamaan, hidup yang lebih santai, cara kerja yang teratur, rasa kerjasama yang
tinggi, perubahan yang lamban, dan sebagainya.
Dalam pola kehidupan masyarakat industri, sifat – sifat yang
dimiliki masyarakatnya jauh berbeda. Diversifikasi pekerjaan dan tugas – tugas
dalam satu pekerjaan melahirkan spesialisasi yang menuntun profesionalisme
dalam setiap spesialisasi tersebut. Hal itu mengakibatkan adanya keragaman
tugas dan pekerjaan.
2.
Perubahan peranan wanita
Dewasa
ini jumlah wanita yang berpendidikan relatif seimbang dengan pria, sebagai
akibat emasipasi yang membuka kesempatan kepada kaum wanita untuk memperoleh
pendidikan. Keadaan ini membawa beberapa implikasi, baik bagi kehidupan sosial
– pribadi para wanita, kehidupan keluarga, maupun dalam situasi kerja.
3.
Perubahan Kehidupan keluarga
Perkembangan
kehidupan keluarga sejalan dengan perkembangan masyarakat. Pola kerja
masyarakat modern (industri ) menuntut waktu kerja yang tidak teratur, melebihi
waktu biasa, bekerja bukan lagi dari senin sampai jum’at dan pulang tiap hari,
melainkan dari senin sampai minggu dan pulang seminggu sekali, bahkan beberapa
minggu tidak pulang. Hal seperti itu mungkin hanya dialami oleh para bapak /
suami, tetapi juga dialami oleh para ibu / istri, bahkan oleh kedua – duanya.
D.
Perkembangan Teknologi
Penemuan teknologi pertama yang cukup penting adalah teknologi api,
dengan teknologi api, bijih timah, besi, mangan, tembaga, perak, mas, dan lain-
lain, dapat diolah menjadi batangan kemudian diolah lebih lanjut menjadi
berbagai alat kebutuhan manusia.teknologi penting lain yang ditemukan
selanjutnya adalah teknologi pertanian, dengan teknologi ini manusia
membudidayakan bermacam – macam tanaman dan binatang yang sebelumnya tumbuuh liar
di alam bebas.
Perkembangan teknologi lain yang sangat penting dan banyak membawa
perkembangan pada teknologi lain adalah teknologi industri. Perkembangan yang
begitu cepat pada beberapa dekade terakhir adalah perkembangan teknologi
transportasi, teknologi komunikasi dan informtika serta teknologi media cetak.
Selain kemajuan di bidang komunikasi masa, kemajuan bidang telekomunikasi pun
mengalami kemajuan yang begitu pesat. Teknologi media cetak, walaupun jangkauan
dan kecepatan sebenarnya tidak seluas dan secepat komunikasi masa dan
telekomunikasi,mempunyai keunggulan sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar