Kamis, 03 Oktober 2013

Tugas Resume Pengantar Kurikulum



BAB I
KONSEP KURIKULUM

A.    Kedudukan Kurikulum dalam Pendidikan
Kurikulum merupakan syarat mutlak bagi pendidikan di sekolah, kurikulum merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan atau pengajaran. Dapat kita bayangkan, bagaimana bentuk pelaksanaan suatu pendidikan atau pengajaran di sekolah yang tidak memiliki kurikulum. Setiap praktik pendidikan diarahkan pada pencapaian tujuan – tujuan tertentu, apakah berkenaan dengan penguasaan pengetahuan, pengembangan pribadi, kemampuan sosial, ataupun kemampuan bekerja. Untuk menyampaikan bahan pelajaran, ataupun mengembangkan kemampuan – kemampuan tersebut diperlukan metode penyampaian serta alat – alat bantu tertentu. Untuk menilai hasil dan proses pendidikan, juga diperlukan cara – cara dan alat – alat penilaian tertentu pula. Keempat hal tersebut, yaitu tujuan, bahan ajar, metode alat, dan penilaian merupakan komponen – komponen utama kurikulum. Dengan berpedoman pada kurikulum, interaksi pendidikan antara guru dan siswa berlangsung, interaksi ini tidak berlangsung dalam ruang hampa, tetapi selalu terjadi dalam lingkungan tertentu, yang mencakup antara lain lingkungan fisik, alam, sosial budaya, ekonomi, politik, dan religi.
Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan, kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitaspendidikan demi tercapainya tujuan – tujuan pendidikan. Menurut Mauritz Jhonson ( 1967, hlm. 130 ) kurikulum “ prescribes ( or at least anticipates ) the result of instruction “. Kurikulum juga merupakan suatu rencana pendidikan , memberikan pedoman  dan pegangan tentang jenis, lingkup, dan urutan isi, serta proses pendidikan.
B.     Konsep Kurikulum
Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya. Menurut pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan – kumpulan mata pelajaran yang harus di sampaikan guru atau dipelajari oleh siswa. Anggapan ini telah ada sejak zaman Yunani Kuno, dalam lingkungan atau hubungan tertentu pandangan ini masih dipakai sampai sekarang, yaitu kurikulum sebagai “ a racecourse of subject matters to be mastered “ ( Robert S. Zais, 1976, hlm. 7 ).
Kurikulum juga sering dibedakan antara kurikulum sebagai rencana dengan kurikulum yang fungsional. Kurikulum bukan hanya merupakan rencana tertulis bagi pengajaran, melainkan sesuatu yang fungsional yang beroperasi dalam kelas, yang member pedoman dan mengatur lingkungan dan kegiatan yang berlangsung di dalam kelas. Rencana tertulis merupakan dokumen kurikulum, sedangkan kurikulum yang dioperasikan di kelas merupakan kurikulum fungsional.
Bidang cakupan teori atau bidang studi kurikulum meliputi : konsep kurikulum, penentuan kurikulum, pengembangan kurikulum, desain kurikulum, implementasi dan evaluasi kurikulum. Sebagai suatu system, kurikulum merupakan bagian atau subsistem dari keseluruhan kerangka organisasi sekolah atau system sekolah. Fungsi utama system  kurikulum adalah dalam pengembangan, penerapan, evaluasi, dan penyempurnaannya, baik sebagai dokumen tertulis maupun aplikasinya dan menjaga agar kurikulum tetap dinamis.
C.     Kurikulum dan Teori – Teori Pendidikan
Suatu kurikulum disusun dengan mengacu pada suatu atau beberapa teori kurikulum, dan suatu teori kurikulum diturunkan atau dijabarkan dari teori pendidikan tertentu, kurikulum dapat dipandang sebagai rencana konkret penerapan dari suatu teori pendidikan. Ada empat teori pendidikan yang banyak dibicarakan para ahli pendidikan dan dipandang mendasari pelaksanaan pendidikan, yaitu pendidikan klasik, pendidikan pribadi, pendidikan interaksional, dan teknologi pendidikan.
1.      Pendidikan Klasik
Pendidikan klasik atau classical education dapat dipandang sebagai konsep pendidikan tertua. Menurut konsep pendidikan klasik, guru atau pendidik adalah ahli dalam bidang ilmu dan juga contoh atau model nyata dari pribadi yang ideal. Siswa merupakan penerima pengajaran yang baik, tetapi sebagai penerima informasi sesungguhnya mereka pasif.
Ada dua model konsep pendidikan klasik, perenialisme dan esensialisme, walaupun didasari dengan konsep – konsep yang sama, keduanya memiliki pandangan yang berbeda. Parenialisme maupun esensialisme mempunyai pandangan yang sama tentang masyarakat, bahwa masyarakat  bersifat statis. Pendidikan berfungsi memeihara dan mewariskan pengetahuan, konsep – konsep dan nilai – nilai yang telah ada.
Parenialisme berkembang di Eropa dalam masyarakat aristokratis agraris, mereka lebih berorientasi ke masa lampau dan kurang mementingkan tuntutan – tuntutan masyarakat yang berkembang saat sekarang. Pendidikan lebih menekankan pada humanitas, pembentukan pribadi, dan sifat – sifat mental.
Esensialisme berkembang di Amerika Serikat dalam masyarakat industri, pendidikan ini lebih mengutamakan sains daripada humanitas. Mereka lebih pragmatis, pendidikan diarahkan dalam mempersiapkan generasi muda untuk terjun ke dunia kerja. Konsep ini lebih berorientasi pada masa sekarang dan yang akan datang.
 Kurikulum pendidikan klasik lebih menekankan isi pendidikan, yang diambil dari disiplin – disiplin ilmu, disusun oleh para ahli tanpa mengikutsertakan guru – guru, apalagi siswa. Isi disusun secara logis, sistematis, dan berstruktur, dengan berpusatkan pada segi intelektual, sedikit sekali memperhatikan segi – segi social atau psikologi peserta didik.


















BAB II
TEORI KURIKULUM

A.    Apakah Teori Itu ?
Suatu teori lahir dari suatu proses, yang berbeda dengan yang lainnya. Suatu teori hanya menjelaskan hal yang terbatas, teori lain menjelaskan hal yang lebih luas. Teori menjelaskan suatu kejadian, suatu kejadian yang di jelaskan oleh suatu teori menunjukkan suatu set yang universal, set universal ini terbentuk oleh tiga bagian. Bagian yang pertama, kejadian yang dia ketahui, yang dinyatakan sebagai fakta, hokum atau prinsip. Bagian yang kedua yang dinyatakan sebagai asumsi, proposisi, dan postulat. Bagian ketiga adalah begian dari set universal atau bagian dari keseluruhan yang belum diketahui.
Tugas seorang teoritis adalah merumuskan istilah – istilah dan pernyataan yang akan menjelaskan isi bagian – bagian dan hubungan diantara bagian – bagian tersebut. Suatu teori terdiri atas serangkaian pernyataan, di dalam pernyataan tersebut ada istilah –istilah.
1.      Apakah Fungsi Teori ?
Minimal ada tiga fungsi teori yang sudah disepakati para ilmuwan yaitu : mendeskripsikan, menjelaskan dan memprediksi. Dalam usaha mendeskripsikan, menjelaskan, dan membuat prediksi, para ahli terus mencari dan menemukan hokum – hokum baru dan hubungan – hubungan baru diantara hukum – hukum tersebut. Melalui proses demikian mungkin terjadi didalam suatu “ set kejadian “, semua hukum dan interelasinya dapat dinyatakan dan teori itu telah berkembang menjadi hokum yang lebih tinggi.
B.     Teori Pendidikan
Teori – teori pendidikan yang ada lebih menggambarkan pandangan filosofis, ada dua kecenderungan perkembangan ilmu pendidikan. Pertama, perkembangan yang bersifat teoritis yang merupakan pengkajian masalah – masalah pendidikan dari sudut pandangan ilmu lain, seperti filsafat, psikologi, dan lain – lain. Kedua, perkembangan ilmu pendidikan dan praktik pendidikan, keduanya dapat saling membantu, melengkapi, dan memperkaya. Walaupun terdapat perbedaan , keduanya tidak dapat dipisahkan, teori menjadi pedoman bagi praktik dan praktik memberi umpan balik bagi pengembangan teori.


C.     Teori Kurikulum
Teori kurikulum yaitu sebagai suatu perangkat pernyataan yang memberikan makna terhadap kurikulum sekolah, makna tersebut terjadi karena adanya penegasan hubungan antara unsur – unsur kurikulum, Karena adanya petunjuk perkembangan, penggunaan dan evaluasi kurikulum.
1.      Konsep Kurikulum
Konsep pertama, kurikulum sebagai suatu substansi, suatu kurikulum, dipandang orang sebagai suatu rencana kegiatan belajar bagi murid – murid di sekolah, atau sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin di capai.
Konsep kedua, adalah kurikulum sebagai suatu system, yaitu system kurikulum, sistem kurikulum merupakan bagian dari sistem persekolahan, system pendidikan bahkan system masyarakat.
Konsep ketiga, kurikulum sebagai suatu bidang studi yaitu bidang studi kurikulum. Ini merupakan bidang kajian para ahli kurikulum dan ahli pendidikan dan pengajaran.
2.      Perkembangan Teori Kurikulum
Perkembangan kurikulum telah di mulai pada tahun1890 dengan tulisan Charles dan McMurry, tetapi secara definitif berawal pada hasil karya Franklin Babbit tahun 1918. Menurut Babbit inti dari teori kurikulum itu sederhana, yaitu kehidupan manusia. Kehidupan manusia meskipun berbeda – beda pada dasarnya sama, terbentuk oleh sejumlah kecakapan pekerjaan. Werret W. Chalters ( 1923 ) setuju dengan konsep Bobbit tentang analisis kecakapan atau pekerjaan sebagai dasar penyusunan kurikulum. Chalters lebih menekankan pada pendidikan vokasional.
Mulai 1920, karena pengaruh pendidikan progresif, berkembang gerakan pendidikan yang berpusat pada anak ( child centered ). Pada tahun 1947 di Universitas Chicago berlangsung diskusi besar pertama tentang teori kurikulum. James B. MacDonald ( 1964 ) melihat teori kurikulum dari model sistem. Broudy, Smith dan Burnett ( 1964 ) menjelaskan masalah persekolahan dalam suatu skema yang menggambarkan komponen – komponen dari keseluruhan proses mempengaruhi anak.
Thomas L. Faix ( 1966 ) menggunakan analisis struktural – fungsional yang berasal dari biologi, sosiologi, dan antropologi untuk menjelaskan konsep kurikulum. Alizabeth S. Maccia ( 1965 ) dari hasil analisisnya menyimpulkan adanya empat teori kurikulum, yaitu : teori kurikulum ( curriculum theory ), teori kurikulum – formal ( formal – curriculum theory ), teori kurikulum valuasional ( valuational curriculum theory ), dan teori kurikulum praksiologi ( praxiological curriculum theory ). Mauritz Johnson ( 1967 ) membedakan antara kurikulum dengan proses pengembangan kurikulum. Kurikulum merupakan hasil dari system pengembangan kurikulum, tetapi system pengembangan bukan kurikulum.
1.      Sumber pengembangan kurikulum
Dari kajian sejarah kurikulum, kita mengetahui beberapa hal yang menjadi sumber atau landasan inti penyusunan kurikulum. Pengembangan kurikulum pertama bertolak dari kehidupan dan pekerjaan orang dewasa. Dalam pengembangan selanjutnya, sumber ini menjadi luas meliputi semua unsur kebudayaan, sumber lain penyusun kurikulum adalah anak, beberapa pengembangan kurikulum mendasarkan penentuan kurikulum kepada pengalaman – pengalaman penyusunan kurikulum yang lalu.
Terakhir yang menjadi sumber penentuan kurikulum adalah kekuasaan sosial – politik. Di Indonesia, pemegang kekuasaan social – politik dalam penentuan kurikulum adalah menteri pendidikan dan kebudayaan yang dalam pelaksanaannya dilimpahkan kepada Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah serta Dirjen Pendidikan Tinggi bekerja sama dengan Balitbangdikbud.
2.      Desain dan Rekayasa Kurikulum
Desain kurikulum merupakan suatu pengorganisasian tujuan, isi, serta proses belajar yang akan diikuti siswa pada berbagai tahap perkembangan pendidikan. Rekayasa kurikulum berkenaan dengan bagaimana proses memfungsikan kurikulum di sekolah, upaya – upaya yang perlu dilakukan para pengelola kurikulum agar kurikulum dapat berfungsi sebaik – baiknya.  







BAB 3
LANDASAN FILOSOFIS DAN PSIKOLOGIS PENGEMBANGAN KURIKULUM
A. Landasan Filosofis
Filsafat yaitu upaya untuk menggambarkan dan menyatakan suatu pandangan yang sistematis dan komperhensif tentang alam semesta dan kedudukan manusia didalamnya. Ada tiga cabang besar filsafat, yaitu metafisik yang membahas segala yang ada dalam alam ini, epistemologi yang membahas kebenaran dan aksiologi yang membahas nilai. Aliran – aliran filsafat yang kita kenal bertolak dari pandangan yang berbeda dalam ketiga hal itu.
Menurut Donald Butler, filsafat memberikan arah dan metodologi terhadap praktik pendidikan, sedangkan praktik pendidikan memberikan bahan- bahan bagi pertimbangan – pertimbangan filosofis. Jhon Dewey umpanya mempunyai pandangan yang hampir sama dengan Butler,  bagi Dewey, filsafat dan filsafat pendidikan adalah sama, sebagaimana juga pendidikan menurut Dewey sama dengan kehidupan. Seperti halnya dalam filsafat umumnya dalam filsafat pendidikan pun dikenal banyak pandangan atau aliran setiap pandangan mempunyai landasan metafisik, epistemologi, dan aksiologi tentang masalah pendidikan yang berbeda.
1. Dasar – dasar Filsafat Dewey
Ciri utama filsafat Dewey adalah konsepsinya tentang dunia yang selalu berubah, mengalir, atau on going-ness. Ciri lain filsafat Dewey adalah anti dualistik, pandangannya tentang dunia adalah monistik dan tidak lebih dari sebuah hipotesis. Filsafat Dewey lebih berkenaan dengan epistemologi dan tekanannya kepada proses berpikir.
2. Teori pendidikan Dewey
Pendidikan berarti perkembangan, perkembangan sejak lahir hingga menjelang kematian, jadi pendidikan itu juga berarti sebagai kehidupan. Bagi Dewey, education is growth, development, life. Pendidikan merupakan reorganisasi dan rekonstruksi yang konstan dari pengalaman. Pengalaman itu bersifat aktif dan pasif, pengalaman yang bersifat aktif berarti berusaha, mencoba, dan mengubah, sedangkan pengalaman pasif berarti menerima dan mengikuti saja. Belajar dari pengalaman adalah bagaimana menghubungkan pengalaman kita dengan pengalaman masa lalu dan yang akan datang.

B. Landasan Psikologis
Peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses perkembangan, tugas utama yang sesungguhnya dari para pendidik adalah membantu perkembangan peserta didik secara optimal. Jadi, minimal ada dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar.
1. Psikologi Perkembangan
Psikologi perkembangan membahas perkembangan individu sejak masa konsepsi, yaitu masa pertemuan spermatozoid dengan sel telur sampai dengan dewasa.
a. Metode dalam psikologi perkembangan
Metode sosiologik digunakan oleh Robert Havighurst. Ia mempelajari perkembangan anak dilihat dari tuntutan akan tugas – tugas yang harus dihadapi dan dilakukan dalam masyarakat. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, tetapi tempo dan irama perkembangan masing – masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama.
b. Teori perkembangan
Dikenal ada tiga teori pendekatan tentang perkembangan individu, yaitu pendekatan pentahapan ( stage approach ), pendekatan diferensial (differential approach ), dan pendekatan ipsatif ( ipsative approach ). Ada sepuluh kelompok tugas perkembangan yang harus dikuasai anak pada setiap fase yang membentuk pola, yaitu pola:
·         Kebergantungan – keberdirisendirian
·         Memberi – menerima kasih sayang
·         Hubungan sosial
·         Perkembangan kata hati
·         Peran bio – sosio dan psikologis
·         Penyesuaian dengan perubahan badan
·         Penguasaan perubahan badan dan motorik
·         Belajar memahami dan mengontrol lingkungan fisik
·         Pengembangan kemampuan konseptual dan sistem simbol
·         Kemampuan melihat hubungan dengana alam semesta.
2. Psikologi Belajar
Psikologi belajar merupakan suatu studi tentang bagaimana individu belajar,belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi melalui pengalaman. Segala perubahan tingkah laku baik yang berbentuk kognitif, afektif, maupun psikomotor dan terjadi karena proses pengalaman dapat dikategorikan sebagai perilaku belajar.























BAB 4
LANDASAN SOSIAL BUDAYA, PERKEMBANGAN ILMU DAN TEKNOLOGI DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM

A. Pendidikan dan Masyarakat
Ada tiga sifat penting pendidikan. Pertama, pendidikan mengandung nilai dan memberikan pertimbangan nilai. Kedua, pendidikan diarahkan pada kehidupan dalam masyarakat. Ketiga, pelaksanaan pendidikan dipengaruhi dan di dukung oleh lingkungan masyarakat tempat pendidikan itu berlangsung. Tujuan umum pendidikan seiring dirumuskan untuk menyiapkan generasi muda menjadi orang dewasa anggota masyarakat yang mandiri dan produktif.
Konsep pendidikan bersifat universal, tetapi pelaksanaan pendidikan bersifat lokal, disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat setemapat. Setiap lingkungan masyarakat masing – masing memiliki sistem sosial – budaya yang berbeda. Salah satu aspek yang cukup dalam sistem sosial – budaya adalah tatanan nilai – nilai. Pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan. Dalam arti yang lebih mendasar, pendidikan merupakan suatu proses kebudayaan. Proses pemdudayaan tidak dapat berlangsung secara sendirian, melainkan harus dalam interaksi dengan orang lain, interaksi dengan lingkungan. Kehidupan masyarakat tidak terlepas dari tempat masyarakat ituberada, kehidupan masyarakat juga dipengaruhi oleh tingkat kemajuan yang telah dicapainya.
B. PerkembanganMasyarakat
Salah satu ciri dari masyarakat adalah selalu berkembang, karena adanya pengaruh dari perkembangan teknologi, terutama teknologi industri, transportasi, komunikasi, telekomunikasi dan elektronika, masyarakat kita dewasa ini berkembang sangat cepat menuju masyarakat terbuka, masyarakat informasi dan global. Perubahan – perubahan masyarakat ini akan mempengaruhi perkembangan setiap individu warga masyarakat, mempengaruhi pengetahuan, kecakapan, sikap, aspirasi, minat, semangat, kebiasaan bahkan pola – pola hidup mereka.
1. Perubahan Pola Pekerjaan
Karena pengaruh perkembangan teknologi maka terjadi perubahan yang cukup drastis dalam pola pekerjaan. Masyarakat secara berangsur – angsur terutama diperkotaan sering terjadi loncatan, berubah dari kehidupan yang berpola agraris ke pola kehidupan industri. Pola kehidupan agraris memiliki kesamaan, hidup yang lebih santai, cara kerja yang teratur, rasa kerjasama yang tinggi, perubahan yang lamban, dan sebagainya.
Dalam pola kehidupan masyarakat industri, sifat – sifat yang dimiliki masyarakatnya jauh berbeda. Diversifikasi pekerjaan dan tugas – tugas dalam satu pekerjaan melahirkan spesialisasi yang menuntun profesionalisme dalam setiap spesialisasi tersebut. Hal itu mengakibatkan adanya keragaman tugas dan pekerjaan.
2. Perubahan peranan wanita
Dewasa ini jumlah wanita yang berpendidikan relatif seimbang dengan pria, sebagai akibat emasipasi yang membuka kesempatan kepada kaum wanita untuk memperoleh pendidikan. Keadaan ini membawa beberapa implikasi, baik bagi kehidupan sosial – pribadi para wanita, kehidupan keluarga, maupun dalam situasi kerja.
3. Perubahan Kehidupan keluarga
Perkembangan kehidupan keluarga sejalan dengan perkembangan masyarakat. Pola kerja masyarakat modern (industri ) menuntut waktu kerja yang tidak teratur, melebihi waktu biasa, bekerja bukan lagi dari senin sampai jum’at dan pulang tiap hari, melainkan dari senin sampai minggu dan pulang seminggu sekali, bahkan beberapa minggu tidak pulang. Hal seperti itu mungkin hanya dialami oleh para bapak / suami, tetapi juga dialami oleh para ibu / istri, bahkan oleh kedua – duanya.
D. Perkembangan Teknologi
Penemuan teknologi pertama yang cukup penting adalah teknologi api, dengan teknologi api, bijih timah, besi, mangan, tembaga, perak, mas, dan lain- lain, dapat diolah menjadi batangan kemudian diolah lebih lanjut menjadi berbagai alat kebutuhan manusia.teknologi penting lain yang ditemukan selanjutnya adalah teknologi pertanian, dengan teknologi ini manusia membudidayakan bermacam – macam tanaman dan binatang yang sebelumnya tumbuuh liar di alam bebas.
Perkembangan teknologi lain yang sangat penting dan banyak membawa perkembangan pada teknologi lain adalah teknologi industri. Perkembangan yang begitu cepat pada beberapa dekade terakhir adalah perkembangan teknologi transportasi, teknologi komunikasi dan informtika serta teknologi media cetak. Selain kemajuan di bidang komunikasi masa, kemajuan bidang telekomunikasi pun mengalami kemajuan yang begitu pesat. Teknologi media cetak, walaupun jangkauan dan kecepatan sebenarnya tidak seluas dan secepat komunikasi masa dan telekomunikasi,mempunyai keunggulan sendiri.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar